?

Hai, homies! Saya kembali lagi dengan cerita lain yang tidak masuk akal, haha! Karena benar-benar tidak ada yang menulis Bully Fanfiction, jadi saya putuskan untuk menuangkan teh ke dalam Cangkir Bully Fandom INDO (ya saya tahu, nama yang aneh kan?) Mungkin ini karena di sana tidak terlalu banyak Author Anime-sih seperti saya kecuali hanya segelintir, dan sisanya hampir 70% fanfic gay :D! Ini pada dasarnya adalah pengalaman saya ketika bermain game Legend ini, jadinya ya agak ngaco, kwkwkwk!

Disclaimer: Oke, baiklah. Ini memang milik Rockstar, lalu apa?! … Khmph!


Selamat Datang di Bullworth:

Sebuah mobil terlihat berhenti di depan sekolah dan seorang remaja berambut jahe mengenakan jaket coklat serta celana Jeans Kasual keluar dari pintu penumpang. Tak lama setelah dia menginjakkan kaki di jalan beraspal, mobil itu langsung melesat pergi, meninggalkan asap hitam disertai suara mesin yang melengking.

"Ma ...! Kenapa sih kau harus menikah dengan orang tengik itu? Apa yang salah dengan dirimu?" nada suara dan raut wajahnya menunjukkan tingkat kekesalan yang tinggi. "Aku tidak habis pikir!" Gumam si remaja itu.

Ketukan sepatu bertumit tinggi terdengar di belakangnya diikuti suara seorang wanita, "Anda pasti anak dari Hopkins." Yap, seorang wanita dengan pakaian sekertaris bergaya 50-an yang terlihat sangat ketinggalan jaman datang dan menyambut siswa baru. "Kami sudah menunggumu." dia berujar sambil kedua tangannya terangkat ke samping dengan gaya yang dramatis, "Selamat datang di Akademi Bullworth!"

"..."

"Saya yakin anda akan senang di sini, benar-benar senang!" Penekanannya pada 'benar-benar' terkesan dilebih-lebihkan. Tapi kemudian nada bicaranya berubah ke mode ketus secepat kita mengganti saluran TV, "Yah, saya tidak punya banyak waktu menunggu seorang anak nakal sepertimu." Sekertaris terus berbicara. "Kepala Sekolah sudah menunggumu, Hopkins, di kantornya."

Merasa skeptis pada sikap wanita paruh baya itu, si rambut jahe mengatakan, "Oke." sambil berjalan menjauhi sekertaris, yang dengan jengkel menunjuk ke arah Sekolah.

"Kantornya ada di sana, nak!" Dia memberitahunya. "Jangan buat Tuan Crabblesnitch menunggu, dia itu sungguh pria yang brilian …! Brilian." Sekarang sekertaris hanya berdiri melamun, mungkin memikirkan tentang Kepala Sekolah yang menurutnya 'Brilian' tanpa busana, begitu pikir remaja nakal sambil menuju gerbang yang entah bagaimana bisa terbuka secara ajaib. Tapi dia sepertinya tidak mempermasalahkannya dan terus melangkah.

Remaja yang diidentifikasi sebagai Jimmy Hopkins, anak nakal yang telah dikeluarkan dari 7 sekolah karena kenakalannya kini berdiri menghadap ke arah sekolah teratas dalam daftar hitam, gerbang di belakangnya kembali tertutup tanpa satupun orang yang sadar atau bahkan peduli. Dengan santai ia berjalan menuju Gedung Utama sekolah, mengabaikan beberapa murid berkemeja putih - satu pirang, satu berkulit hitam, dan yang satunya pendek - mereka bertiga mengejeknya dan mengancam akan memukulinya jika tidak memberi uang makan siang pada mereka. Jimmy tetap melangkah mendekati tangga yang mengarah ke dalam Gedung Sekolah,. Lalu seorang gadis berambut merah menyapanya tanpa berhenti berjalan, "Dasar jelek!", sementara seorang anak kecil berkulit hitam menjeri ngeri, "Ada penjahat!".

"... Terserahlah!"

Jimmy mengabaikan omong kosong yang dilontarkan murid-murid di sekitarnya dan melanjutkan perjalanan singkatnya. Ketika dia memasuki ruang gedung sekolah, Jimmy bisa merasakan berbagai pasang mata menatapnya, namun sebagian dari mereka tidak memperhatikannya dan hanya fokus bercakap-cakap dengan sesama siswa lain. Dia menggerutu pada betapa norak cat dinding di dalam bangunan! Semuanya kuning dan biru, bahkan lantainya sendiri. Setelah berjalan menaiki tangga dua arah, tidak sengaja menabrak seorang siswa gemuk dengan resleting celana yang tidak terkancing, Jimmy tiba di depan kantor Kepala sekolah,.

"Ahh, ya! Jadi, anda pasti Hopkins?" Sang kepala sekolah menyambutnya, sama sekali tidak tampak ramah. Jimmy hanya merespon alakadarnya.

"Uh-huh …"

Tentu saja tidak lama setelah itu, Dr Crabblesnitch mengerutkan hidung pada murid baru yang sekarang mengambil tempat duduk, "Apa? Uh-huh … Apa itu?!" Dia menuntut dengan nada memperingatkan.

"Maksudnya, iya pak …" Jimmy dengan jengkel menjawab sambil memutar bola matanya ke samping.

"Bagus!" Crabblesnitch lalu melihat catatan di meja nya. "Anda telah melakukan banyak kenakalan, bukan? Vandalisme, grafiti, kekerasan, tidak menghormati staf sekolah …?!" Crabblesnitch terus membaca dengan alisnya yang berkedut, "Oh, aku takut padamu, Hopkins!" Dia berkata secara dramatis dan sarkastik.

"Ayo pak ... Yang benar saja!"

"Ya, saya benar-benar serius! Saya tidak pernah bertemu dengan bocah nakal sepertimu, tidak pernah sekalipun dalam hidup saya." Crabblesnitch menyatakan secara gamblang, "Hopkins, kau sungguh anak ternakal yang pernah datang ke sini. Beri alasan kenapa saya harus membuang-buang waktu saya untuk anak sepertimu?"

"Aku tidak tahu ..."

"Karena itu adalah panggilan hidup, dan pekerjaan saya! Kau berbakat dalam membuat masalah, dan saya berbakat dalam mendidik anak-anak nakal macam kau ini." Dia menunjuk dirinya sendiri sambil terus berpidato. "Nak, sebenarnya aku punya firasat baik tentangmu, bahwa kau dan aku akan menjadi teman baik. Kau jaga hidungmu tetap bersih, atau aku sendiri yang akan membersihkannya!" Di tengah kalimatnya yang mengisnpirasi, Nona sekertaris datang menginterupsi dengan nampan berisi sepoci teh hijau. "Nona Danvers, kau sudah kembali?" Pria paruh baya itu menyapanya, tidak sadar bahwa Jimmy memperhatikan interaksi mereka sambil menggelengkan kepala.

"Iya, Kepala Sekolah, dan saya bawakan anda teh."

Kau sungguh baik, Nona Danvers."

"Lebih dari yang pantas anda terima, Kepala Sekolah …"

Crabblesnitch kemudian berbalik ke Jimmy sambil berkata pada Sekertaris, "Antar teman baru kita Hopkins berkeliling sekolah ini, saya sepertinya akan istirahat dulu."

"Tentu, Kepala Sekolah!" Nona Danvers berbalik dengan wajah tidak puas ke arah Jimmy, "Ayo nak! Aku punya banyak urusan."

"Dan nak," Kembali lagi Crabblesnitch memperingatkan Jimmy dengan jari teracung. "kau harus jaga hidungmu bersih, atau kami akan membersihkannya sendiri, paham?"

" Jadi, di sinilah aku. Berada di sekolah yang mungkin terburuk di Negara ini - yang alumninya tidak jauh-jauh dari Penyalur Senjata, pembunuh berantai, dan pengacara. Brengsek bener! Orang tua itu pikir dia bisa mengendalikanku …?! Kita akan lihat nanti, teman. Aku hanya memberi orang lain apa yang pantas mereka terima. "

Nona Danvers membawa Jimmy berkeliling sekolah dan akhirnya mereka pun kembali ke kantor, kemudian sekertaris itu menyuruhnya untuk berganti pakaian seragam. Saat dia keluar dari gedung utama Sekolah yang memuakkan tersebut, Jimmy berpikir sambil bergumam. "Mari kita mulai!". Langkahnya menuruni tangga, tujuannya adalah Asrama sekarang. Semoga tidak ada omong kosong lagi yang menghadang …! Semoga.

Dia menuruni anak tangga lalu menuju Persimpangan yang mengarah ke tiga tempat berbeda, sedangkan gerbang itu masih saja tertutup. Menurut Nona Danvers ini adalah kebijakan Kepala Sekolah agar murid-murid di Tahun ajaran baru bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah sebelum mereka dilepas ke Kota Bullworth pada akhir musim gugur. Lebih banyak murid tampak berbincang-bincang satu sama lain, Jimmy seperti biasa mengabaikan olok-olok dari para murid, akhirnya sampai juga ia di depan Asrama laki-laki.

... Dan Jimmy tidak bisa bertanya-tanya lagi kenapa sekolah ini sudah menelan dirinya ...

Tepat ketika dia mendekati bangunan Asrama, sekelompok anak berkemeja putih yang sebelumnya mengganggunya kini berdiri menghadangnya, salah satu dari mereka yang rambut merah maju dan berkata sambil meninju ke kedua tangannya, "Coba tebak waktunya ape sekarang?! Ya! Waktunya menghajar seseorang!" Seorang berkulit hitam dari kelompok itu tiba-tiba bersorak dari belakang Jimmy.

"Hajar saja anak baru itu! Pukul dia, Wade!"

Tidak tahan dengan omong kosong lagi, Jimmy hanya menggelengkan kepalanya dan mendengus.

Orang yang bernama Wade langsung menerjang dengan tangannya menuju ke wajah Jimmy, tetapi dia gagal karena siswa baru itu memblokir pukulan Wade dengan mudah, dan secepat itu Jimmy memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan memukul Wade di bagian dada kiri menggunakan tangan kanan sementara tangan kirinya ia arahkan ke sisi kanan tubuh Wade, kemudian Jimmy menyelesaikannya dengan sebuah hantaman keras ke dagu lawannya, menyebabkan Wade terhuyung-huyung ke belakang memegangi sisi tubuhnya yang kesakitan. Tidak memberi waktu untuk bernafas, Jimmy melanjutkan serangan ke depan, meraih kemeja siswa yang sama tingginya itu dan mendorongnya ke bawah saat punggung Wade bersentuhan dengan beton keras, Jimmy menendang pinggang bocah malang itu beberapa kali sampai Wade berguling ke samping untuk menghindari tendangan kemudian segera bangkit.

"MAMPUS KAU!" Wade meraung, wajahnya merah karena menahan amarah. Dia maju sekali lagi dan mengarahkan kakinya ke daerah bawah, sayangnya Jimmy sudah menebaknya dan mundur satu langkah. Dia meraih pergelangan tangan Wade, kedua tangan Jimmy mencengkeram sekaligus memutarnya secara berlawanan arah, Wade menjerit kesakitan karena tangannya terasa panas akibat gesekan kulit. Jimmy menyudahi perlawanannya, Wade berlari untuk hidupnya tetapi dia malah tersandung kakinya sendiri dan terjatuh dengan bunyi gedebuk! Merasa telah menang, Jimmy menghampiri Wade yang kini masih berbaring di tanah dan tertawa merendahkan. Pintu Asrama dibanting terbuka, lalu seorang siswa yang pada dasarnya setinggi mesin soda berteriak layaknya seorang maniak.

"MATI KAU, ANAK BARU! MATI!"

Jimmy menoleh dan disambut dengan hantaman besar ke tubuhnya oleh si Kingkong, tapi dia masih bisa berdiri. Segera setelah itu, kelompok siswa berkemeja putih yang sejak tadi menyaksikan perkelahian berlari kocar kacir dan seorang guru gemuk datang, melerai mereka sambil memarahi Jimmy karena tidak memakai seragam meskipun fakta bahwa anak itu adalah siswa baru.


Haha, maaf kalo pendek dan ada typo, saya berusaha untuk tidak terkesan garing banget :D!