Sesampainya di rumah Zhao Yun, ga ada siapa-siapa dirumah, pintu ga dikunci, Zhao Yun berpikir kalo tadi pas sepupunya keluar rumah ga dikunci -mungkin niatnya cuman keluar bentaran ke warung mbak Zhurong- tapi ... masalahnya adalah saat masuk ke dalam rumahnya sekarang kek kapal pecah seperti abis ada badai yang masuk ke dalem rumah numpang ngancurin rumah. Zhao Yun enggak mau berpikir kalau sepupunya itu yang bikin rumah Bapaknya kek kapal pecah, cuman ... ya, Zhao Yun tau kalo hari ini siswa dari sekolah elit yang ga jauh dari SMA Ku Rindu Kamu 69 itu pulangnya cepet tapi tugas bejibun.

"Rumahmu rapi sekali Yuni." kata Cao Pi sambil melihat ke sekeliling ruangan.

"Lu niat muji apa ngejek sih?" tanya Zhao Yun sedikit kesal.

"Rumah gua lebih ancur dari lu."

"Oh, oh ya penghuni rumah lu kan lebih wah daripada gua ya. Silahkan duduk di sofa, maaf kalau banyak majalah bertebaran di atas sofa." Zhao Yun berjalan menaiki tangga untuk ke kamarnya, berniat untuk mengambil peralatan untuk menjahit.

Cao Pi pun duduk di sofa itu, tapi memang benar apa yang dikatakan Zhao Yun banyak majalah berserakan ditambah dengan gambar-gambar hasil karya seseorang yang tergeletak begitu saja diatas sofa. Dari banyak majalah, dan gambar yang tergeletak, ada gambar yang menarik perhatian seorang Zihuan, dan penasaran siapakah yang menggambar itu, tepat dengan kembalinya Zhao Yun ke ruang keluarga dari kamarnya, Cao Pi mengambil gambar itu, lalu menunjukkannya kepada Zhao Yun.

Cao Pi menunjukkan gambar hasil tangan Zhao Yun, di gambar itu ada seorang anak cowo memakai seragam sekolah perempuan.

Muka Zhao Yun langsung sepet kek orang minum air lemon langsung dari buahnya, dia ga mau bilang sebenernya itu hasil kesetressan Zhao Yun karena pelajaran, dan sepupunya.

"Yuni ini juga, aku ingin nanya soal gambar ini." Cao Pi mengambil gambar lain dari sofa itu. "Mereka siapa?"

Cao Pi menunjuk gambarannya yang kedua, di gambar itu ada orang yang mirip persis dengan Cao Pi dan seseorang berambut oranye.

"Ituuu..." Mata Zhao Yun pergi melihat yang lain, dia tidak mau mengingat apa yang dia gambar saat dia stress. Zhao Yun ingin nangesh saat ini juga, aibnya kebuka semua, sama tunangan dadakannya. "hehehehe... biasa kerjaan sepupu gua." Zhao Yun cuman bisa bilang itu, iya, kalau itu karya sepupunya, lagipula dia gambar itu juga gegara sepupunya ngasih ide begitu. "Gua .. juga gatau dia gambar itu siapa..." Alih-alih Zhao Yun membereskan majalah, dan gambar yang berserakan di atas sofa.

"Hmmm..." Cao Pi menaruh gambar itu di atas meja, lalu duduk di atas sofa.

"Baju seragamnya." pinta Zhao Yun.

Cao Pi pun melepas seragamnya, lalu memberikan seragam putihnya yang sudah sobek-sobek pada Zhao Yun.

"Yun, sekalian dong obatin luka-luka gua."

Zhao Yun ngambil seragam Cao Pi kasar terus ngeliatin Cao Pi dengan tatapan kesel, guakan cuman mau ngejahit baju seragam lu yang rusak gegara si tiang listrik, kaga pake sosoan so sweet ngobatin luka.

Zhao Yun tidak membalas perkataan Cao Pi, dia hanya fokus menjahit seragam. Rasanya seperti rumah sendiri, itu yang dirasakan Cao Pi sekarang, dan dia ngambil remot TV seenak jidat, terus nyalain TV. Zhao Yun sih selow soalnya dia juga suka begitu di rumah orang terutama di rumah Om Zhuge Liang kalo udah disuruh pergi bareng Jiang Wei ke sekolah.

"Yuni, lu tau stabilokan?"

"Tau, yang buat nandain hal-hal yang penting di buku paket."

"Yun, sini tangan lu."

"Gua lagi ngejahit seragam lu."

"Bentaran gua mau nandain lu."

"Nandain apa?!" Zhao Yun sewot.

"Nandain kalo elu tuh jodoh gua, dan ga boleh ada yang ngebooking elu selain gua."

"Gua ogah sama lu, kerjaan lu gombalin gua, dan gua jijik, lagipula kalo aku nikah sama kamu, aku gabakal bahagia nanti."

"Kalo aku berhenti ngegombalin kamu lagi gimana?"

"Ga gimana-gimana."

"Kamu tetep ga bakal suka sama aku gitu?"

"Hn."

Zhao Yun berhenti menjahit, terus ngeliat Cao Pi kesel, ingin banget dia jahit mulut Cao Pi biar ga ngeggombal garing kepadannya, tapi ya daripada-daripada, dia menusukkan jarumnya pada seragam Cao Pi, lalu memberikkan tangan kanannya pada Cao Pi. Cao Pi meraih tangan kanannya Zhao Yun dan mencium punggung tangannya.

"Kalau begitu aku ingin kamu menjawab pertanyaanku, apa arti kebahagiaan untukmu?"

Pertanyaan itu ... membuat Zhao Yun terdiam sejenak, menarik tangannya pelan, mulutnya masih tertutup rapat, dia bingung mau menjawab apa, akhirnya Zhao Yun tidak menjawab pertanyaan itu, dia kembali menjahit baju seragam Cao Pi.

Cao Pi juga tampak biasa saja, dan kembali pada aktivitasnya -nonton TV kabel-.

"Udah selesai, tinggal celana lu." Zhao Yun ngelempar kasar baju seragamnya ke muka Cao Pi.

Cao Pi berdiri dari sofa, baru buka kancing dan nurunin celana, penganggu dateng tanpa ketok pintu terlebih dahulu.

"ASTAGFIRULLOH! ISTIGHFAR OI KALIAN!"

RALAT.

Tiang listrik ga mungkin ngucap begitu, mungkin kalo dia adalah Kanetsugu ada persentase dia teriak gitu.

"ANGGUR LU MAU APAIN SEPUPU GUA?!"

Zhao Yun pasang muka pokerface, kalo udah kaya gini ceritanya bakal susah nih.

"Yuni, cuman mau memperbaiki celana gua yang robek-robek."

"BUOHONG! BUKTINYA NI RUMAH KEK KAPAL PECAH!"

Zhao Yun mulai bete. Otak Wen Yang mulai jungkir balik. Cao Pi kembali memakai celananya, terua duduk lagi di sofa, kedua kakinya diangkat dan ditaruh di atas paha Zhao Yun.

"Apa ni maksudnya?"

"Jait."

"Bukan minta pijetin?"

"Kamukan bukan aki-aki tukang pijet yang suka lewat depan rumah, jadi ngapain aku minta kamu pijit?"

Zhao Yun diem, nunduk ngeliat kebawah, mau ngejait celananya tapi ... di dalam pikirannya sekarang sedang berlari kesana-kemari bukan, bukan karena kaki Cao Pi bau. sekarang Zhao Yun sedang berpikir gimana caranya dia bisa membereskan rumah sebelum penghuni rumah yang lain muncul.

"Yuni,"

"Yaaa...?" Zhao Yun mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Cao Pi.

Tumben-tumbenan Zhao Yun ngebales panggilan Cao Pi selaw.

"Aku bantuin beresin rumah kamu."

"Ga-ga usah, biar aku sama sepupu aku yang rada sedeng itu aja, hahaha..."

"Yaudah." Cao Pi berdiri dari sofa.

"Celananya?"

"Gausah, besok aku beli yang baru aja."

"Ha? terus atasannya juga?"

"Ga."

"Orkay ngegembel." ejek Wen Yang yang numpang lewat ke kulkas yang ada di bagian kanan ruangan.

"Chikian, udah diem atau aku lakban mulut kamu."

Wen Yang memutar badannya. "Sekarang sepupuku yang manis berpihak sama olkay demen gombal? Jangan-jangan kamu udah mulai jatuh sama dia ya?"

"Si-si-siapa yang jatuh?! denger Chiki gopean, AKU-TIDAK-AKAN-PERNAH-JATUH-PADANYA."

"Kalau ga akan pernah kenapa kamu dengan senang hati menjahit seragamnya padahal dia mampu beli yang baru."

"SERAH GUA DONG! SALAH ELU JUGA BIKIN SERAGAM DIA ROBEK-ROBEK!"

Zhao Yun mulai emosi entah kenapa dia ingin banget ngontak seseorang yang namanya tertera di iklan konbini tadi. Cao Pi masih berdiri di tempat, nontonin mereka berdua yang lagi opera sabun. Wen Yang otewe ngeggas.

"ABIS DIA NGAJAK BERANTEM GUA!"

"YANG ADA ELU YANG NGAJAK BERANTEM DIA!"

"Lapangan komplek luas noh, kalo berantem jangan di rumah."

"CHIKI GOPEAN GUA GAMAU TAU! NI RUMAH KUDU UDAH RAPIH LAGI SEBELUM PENGHUNI RUMAH PADA PULANG! TITIK! ELU YANG BERESIN NIH RUMAH SENDIRIAN! BYE!"

Zhao Yun balik badan terus keluar dari rumah, Cao Pi ngekor dibelakangnya, Zhao Yun jalan diekori sama Cao Pi sampe depan komplek, Zhao Yun agak risih dibuatnya, Zhao Yun pun membalikkan badannya.

"Berhenti ngekorin aku, mending kamu pulang sono." titah Zhao Yun.

Cao Pi muter badannya terus berjalan membelakangi Zhao Yu, Zhao Yun kicep untuk kesekian kalinya, oke perintahnya diikuti olehnya tanpa ada protes, semakin lama Cao Pi semakin menjauh dari dirinya, hati ingin memanggilnya lagi tapi karena sudah menyuruh dia pergi ya ... apa boleh buat. Tapi tiba-tiba Cao Pi berhenti dan menengok ke belakang melihat ke arah Zhao Yun.

Cao Pi tersenyum seakan tau apa yang ingin Zhao Yun katakan padanya. "Apa kamu mau memanggilku lagi untuk menemanimu?"

"E-e-enggak!"

"Yasudah." Cao pi kembali berjalan.

"Aaa ... Hmph." Zhao Yun pun memutar badan, sambil mengembungkan pipinya karena kesal.

(Ente kok jadi tsunder gitu sih Yun? jijik ah)

Sesampainya di depan konbini Zhao Yun kembali menelaah iklan-iklan yang tertempel di kaca, satu-satu dia bacain sampai ada iklan aneh lagi yang dia temukan.

RECOMMENDED SELLER

SEDIA JASA SEWA PACAR LAKI-LAKI/PEREMPUAN!

MAU NGETEST KESETIAAN TUNANGAN ANDA?

MAU NGEPRANK TEMEN SEKELAS?

MAU JALAN-JALAN TANPA DIEJEK JOMBLO SAMA TEMEN?

GAMAU PUNYA PACAR TAPI INGIN JALAN BERDUA?

BOSEN 19 TAHUN NGEJOMBLO TERUS?

AYO HUBUNGI NOMOR DI BAWAH INI!

01987456 (Sun Ce)

"Si Sun Ce bikin iklan jasa sewa pacar buat apa coba? jangan-jangan tuh anak berkomplot sama Pa Cao Cao?" gumam Zhao Yun tanpa pikir panjang. tapi lama-kelamaan Zhao Yun penasaran apakah jasa sewa ini benar-benar bisa dipercaya atau tidak, masalahnya ditulisan paling atas ada kalimat yang membuat klien ragu untuk menggunakan jasa sewa itu.

Daripada kepikiran sampe kebawa mimpi Zhao Yun iseng-iseng nyoba, diteleponlah Sun Ce sama dia.

"Halo dengan Sun Ce boy/girlfriend delivery service?"

"Lu kate barang apa pake acara deliveri segala?!" sewot Zhao Yun.

"Ternyata elu Yun, lu udah sehat dari acara jantungan elu gegara jadi tunangan dadakan anaknya Pa Cao Cao."

"Diem lu, aku mau nanya apa bener lu sedia jasa sewa pacar?"

"Mata lu tajem juga ternyata bisa baca iklan gua yang berukuran 3x4 itu, hahahaha..."

"SUN CEEEE MATIKAN TELEPONMU!"

"NANTI PAK ADA KLIEN NELPON!"

Zhao Yun mendengar suara teriakan kecoa dari hapenya, sepertinya pelajaran olahraga masih berlangsung dan Sun Ce tetap saja melanggar aturan yang dibuat oleh Pa Lu Bu, membawa ponsel di saku celana saat pelajaran olahraga berlangsung, misalnya.

"Sun Ce, aku mau nyoba jasa elu sehari buat hari sabtu, kaga ada kriteria pokoknya lu pilih random aja."

"Yuni bukannya elu udah ada Cao Pi ya?"

"SERAH GUA! pokoknya sabtu udah ada, gua tunggu di kafe deket sekolah!"

Zhao Yun mematikan teleponnya, sekarang setelah mengatakan itu tanpa sadar, Zhao Yun mulai menyesali perkataannya, pertama dia bertanya-tanya pada dirinya sebenarnya kenapa dia menggunakan jasa sewa pacar? apa karena dia memang tidak ingin dengan Cao Pi? karena dia mengatakan itu tanpa sadar? atau karena hanya penasaran dengan jasa sewa pacar?

TBC

okee ... tadinya mau banting setir jadi ke serius banget tapi ga jadi :v becozzz aku jadi bingung, konfliknya lupa lagi mau apa aja, nulis di catetan khusus cerita juga males jadi paling ntar ada versi revisinya :v